Senin, 14 Maret 2011
Semoga banyak manfaat yang bisa Sahabat dapatkan disini...
Berikut informasi petunjuk jika Sahabat ingin berselancar disini...
Jika ingin membaca-baca artikel silahkan kunjungi :
Pustaka Sahabat Suryo
Jika ingin mengenal lebih dalam kami silahkan kunjungi:
Ruang Pribadi
Jika membutuhkan pembicara untuk kegiatan training dan pelatihan silahkan kunjungi :
Gerai Sahabat Suryo
Jika ingin melihat dokumentasi kegiatan training kami silahkan kunjungi :
Gallery Sahabat Suryo
Jika ingin download file-file kami silahkan kunjungi :
Gudang Download
Jika ingin melihat komentar para peserta training silahkan kunjungi :
Testimoni Peserta Training
Akhir Kata... Selamat Berselancar...
Selasa, 11 Januari 2011
Jilbab Putih Untuk Mama...
“Ayo dong Ma, kapan Mama mo mulai pakai..??” Lulu merajuk Mama lagi. Mama hanya tersenyum simpul melihat tingkah anak semata wayangnya. Ini bukan kali pertama ia merayu Mama. Sudah berkali-kali ia berusaha merayu Mama untuk mewujudkan keinginannya ini. “Ayo Ma, nanti Lulu yang belikan deh..” kalimat rayuan inilah yang pertama ia ucapkan sekitar tiga bulan yang lalu. Lain waktu ia mulai merayu dengan cara yang lain, “Ma, pasti Mama kelihatan cantik banget deh kalo pakai yang warna putih ini”. Biasanya Mama hanya tersenyum menjawab rayuannya. Pernah sekali Mama menjawab dengan lembut, “Iya sayangku, nanti Mama pasti pakai, tunggu hidayah Allah ya..”
Walaupun kadang bingung menjawab rayuan anak semata wayangnya, namun Mama bahagia melihat perubahan diri Lulu. Lulu adalah anak yang periang dan supel. Sejak dulu ia memiliki banyak teman. Saking banyaknya, Mama sempat kawatir dengan pergaulan Lulu saat menginjak usia SMA. Sejenak Mama kembali mengenang masa-masa dimana Lulu masih suka menggelayut manja dipangkuannya dulu. Lulu kecil adalah anak yang baik dan patuh pada orang tuanya. Ia adalah anak yang selalu membanggakan orang tuanya dengan prestasi-prestasi yang selalu diukirnya. Bakatnya yang luar biasa di bidang seni dan olahraga tidak membuat prestasi akademisnya menjadi buruk. Ketiganya berjalan seimbang dengan hasil yang membanggakan. Kelas 1 SD, ia berhasil meraih juara pertama tingkat kabupaten dalam lomba menyanyi antar SD. Kelas 3 SD, giliran lomba lukis yang diikutinya menempatkannya menjadi juara tingkat propinsi. Saat SMP bahkan ia pernah menjadi juara 3 tingkat nasional dalam kejuaraan Taekwondo. Prestasi akademisnya pun sangat membanggakan. Dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP ia selalu meraih rangking 1, hanya sekali ia menjadi rangking 2 saat kelas 1 SMP, itu juga karena ia pernah menderita sakit yang agak berat. Prestasi akademis diluar sekolah juga tidak mengecewakan. Ia pernah membuat bangga Mama saat dikirim pertukaran pelajar ke Australia saat awal-awal di SMA.
Saat-saat berat memang pernah dirasakan Mama ketika Lulu mulai masuk SMA. Lulu harus tinggal di Jakarta, sehingga jauh dari kontrol orang tua. Tekadnya sangat kuat untuk melanjutkan sekolah di SMA favorit di Jakarta. Cita-citanya tercapai dan ia harus meninggalkan orang tua untuk menetap di Jakarta. Namun kurangnya kontrol orang tua ini mempengaruhi pergaulan Lulu juga. Mama sering gelisah saat dikabari Lulu baru sampai tempat kost nya jam 1 malam setelah main bersama teman-temannya. Atau saat dikabari tentang temannya yang dikeluarkan dari sekolah karena kedapatan membawa obat-obatan terlarang ke sekolah. Prestasi akademisnya pun mulai menurun setelah sepulangnya dari Australia. Ia tidak pernah menunjukkan nilai-nilai akademis yang bagus lagi. Apalagi saat itulah masa-masa pubernya mulai tampak. ”Udah Ma, nggak usah kawatir, Lulu udah gede, udah bisa jaga diri kok..” jawabnya saat dulu Mama mengungkapkan kekawatirannya.
Alhamdulillah pelan-pelan kedewasaan Lulu mulai tampak saat ia mulai menginjakkan kaki di bangku kuliah. Di kampus pilihannya, di Bogor, ia mulai menampakkan banyak perubahan yang membuat Mama agak tenang, walaupun kadang-kadang juga membuat Mama bingung menjawab ajakan-ajakannya. ”Ayo Ma, aktif ikut pengajian di Mesjid dong.. Mama kan udah naik haji..”. Belum lagi saat mengomentari penampilan Mama. ”Mama udah naik haji, nggak boleh pake rok yang pendek lagi Ma..”. Dan yang terbaru adalah sudah sejak 6 bulan terakhir ini ia tidak bosan-bosannya mengajak Mama untuk mengenakan jilbab seperti yang baru dikenakannya. ”Lulu memang selalu terlihat manis dengan jilbabnya”, Mama selalu menggumam tentang hal ini setiap melihat anak semata wayangnya. Kegiatannya pun sekarang sangat religius. ”Sekarang Lulu lagi ikut kajian di Masjid Kampus Ma, nanti Lulu telpon lagi ya..” ujar Lulu saat ditelpon Mama.
Sebenarnya bukan tidak ingin, namun karena merasa waktunya belum pas, Mama masih menunda untuk mewujudkan keinginan anak semata wayangnya itu. Mama merasa masih banyak urusan-urusan kantor yang menghambatnya untuk mengenakan jilbab. Namun karena desakan Lulu, akhirnya Mama menjawab untuk menyenangkan Lulu. ”Iya sayang, nanti Mama mulai pakai jilbab saat ulang tahun kamu”. ”Alhamdulillah..” Lulu senang mendengar jawaban Mama, paling tidak sudah ada niat dari Mama walaupun ulang tahunnya masih 7 bulan lagi.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Lulu. Di usianya yang menginjak 19 tahun ia akan memberikan sebuah jilbab putih untuk Mama. Seminggu ini, ia diantar teman-temannya sibuk mencari hadiah untuk Mamanya ini. ”Aku mo yang terbaik untuk Mama”. Berbagai tempat dikunjunginya, dari pasar becek sampai mal-mal elit di kawasan Bogor. ”Ma, aku nggak bisa pulang pas ulang tahun, masih ada satu ujian lagi, Mama sama Papa yang kesini ya..??”. ”Iya nanti Mama kesana, Mama kan janji mau mulai pakai jilbab setelah ulang tahun anak Mama yang cantik”, jawab Mama di telpon beberapa hari yang lalu.
Hari ini benar-benar dipersiapkan sangat baik oleh Lulu. Semua sahabat-sahabatnya sudah berkumpul di rumah kost nya. Berbagai hidangan menghiasi meja rumah kost. Ia sudah tak sabar menanti kedatangan kedua orang tuanya. ”Udah sampai mana Mama kamu Lu..??” tanya teman-temannya. ”Biasa, Mama suka kasih kejutan, ditelpon HP nya nggak diangkat-angkat”, jawab Lulu berusaha menenangkan teman-temannya. Tak lama kemudian tampak sedan hitam memasuki pekarangan rumah kost nya. ”Itu dia Mama..”. Lulu diikuti teman-temanya menghambur keluar, ingin melepaskan rindunya pada Mama. ”Loh Pak Udin sendirian..??”. ”Mana Mama sama Papa..??”. Pak Udin terdiam, supir keluarga Lulu ini berusaha menyembunyikan kesedihan dibalik wajah tuanya.
Hari ini adalah hari spesial bagi Lulu. Hari ini takkan terlupakan sepanjang hidupnya. Jilbab putih yang terbungkus manis kertas kado dan pita merah jambu itu masih tergeletak di atas meja. Jilbab putih itu jadi saksi kegigihannya dalam merayu mama untuk berjilbab. Masih terngiang ditelinganya kata-kata lembut Mama, ”Iya sayang, nanti Mama mulai pakai jilbab saat ulang tahun kamu..” Tak terasa air matanya mulai menetes lagi. ”Ahh.. Mama pasti terlihat cantik pakai jilbab putih itu.. Kenapa begitu cepat..” ”Kenapa harus hari ini Ma..”, bisiknya lirih. ”Kullu nafsin dzaa iqotul mauut..” terngiang kembali kata-kata ustad saat kajian mingguan di masjid kampus kemarin, ”Sesungguhnya setiap yang bernyawa itu pasti akan menemui kematiannya”. ”Dan kita tidak tahu kapan ia akan menemui kita..”
”Jika bisa dilakukan hari ini, mengapa harus menunda kebaikan sampai besok hari..??
Sabtu, 08 Januari 2011
Workshop Attractive Teaching
Apa kata peserta tentang Workshop Attractive Teaching..??
Wijaya Kusumah (
Workshop ini sangat bermanfaat untuk guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran. Workshop Attractive Teaching sangat dibutuhkan oleh guru
yang akan berprestasi tinggi
Gatot Sudarsono ( SMAN 1 Pagak Jawa Timur )
Kami merasa senang & terhibur serta menambah pengetahuan. Kami berharap agar training ini dapat dipublikasikan di acara TV pada acara pendidikan
Nurhasanah ( SDIT Nurul Fikri Depok )
Sebagai guru kita harus menjadi ”kaya” dan dengan workshop inilah kita dapat menanam investasi berharga untuk masa depan anak-anak kita yang lebih cerah dengan menghadirkan something ”wow” dalam setiap kesempatan kita bersama anak-anak didik kita
Juli E. Prijani ( SMAN 1 Pagak Jawa Timur )
Sangat perlu bagi guru, terutama yang murid-muridnya kurang motivasi belajarnya dan bagi sekolah yang berada di tempat-tempat terpencil dengan fasilitas kurang
Widi Gunarti ( SMA Yadika 13 Tambun Jawa Barat )
Wajib diikuti guru yang ingin membuat kelas lebih hidup
Emi Priyanti ( SMPN 30
Training yang menarik, memotivasi kita untuk mengajar lebih menarik dan bermakna
Lenny A. Dewi ( SMAN 3 Bekasi Jawa Barat )
Dengan mengikuti workshop ini membuat saya lebih terbuka atas berbagai perbedaan karakter dan sikap siswa dan akan membantu mendekatkan diri dengan para peserta didik dengan memberikan pelajaran yang menarik
Sunaryati ( SMAN 1 Pagak Jawa Timur )
Setelah mengikuti training ini ternyata banyak sekali hal-hal baru yang belum pernah saya dapatkan di diklat-diklat sebelumnya
Rosanita Sinulingga ( SMK Yadika 7 Bogor Jawa Barat )
Training ini merupakan salah satu kebutuhan setiap guru karena training ini memberi pengaruh untuk menjadi guru yang lebih baik dan mempunyai banyak cara untuk membangun semangat anak didik
Sri Samiasih ( SMAN 1 Pagak Jawa Timur )
Pak Catur, Motivator Guru Indonesia...!!!
Jika Anda ingin juga merasakan manfaat seperti apa yang telah dirasakan oleh para peserta lainnya, segera hubungi kami sekarang juga...
Info lengkap hubungi :
Rahmawati ( 0856-93517498 )








Jumat, 07 Januari 2011
SERI GURU IDOLA 6 - Andalah Pemainnya Bukan Mereka
Ada yang menarik dalam training hari ini. Yaitu mengenai sudut pandang yang biasanya kita gunakan dalam memandang para siswa yang kita ajar. Sesuatu yang menarik ini saya dapatkan saat seorang guru bercerita dalam perkenalan di depan kelas training kami.
”Bapak dan Ibu sekalian, pengalaman saya mungkin tidak sehebat pengalaman Bapak dan Ibu sekalian. Sekolah kami juga tak sehebat sekolah Bapak dan Ibu sekalian. Murid-murid saya adalah anak-anak pinggiran, dengan kelas ekonomi bawah. Lain hal nya jika saya menjadi guru di sekolah favorit, pasti akan banyak sekali siswa-siswa berprestasi yang akan kami hasilkan. Saat ini kami hanya menjalankan fungsi sederhana, yaitu yang penting mereka bisa mengenyam pendidikan saja. Rasanya berat kalau kita berpikir tentang prestasi atau juara-juara dalam lomba-lomba dengan sekolah lain. Apalagi berpikir untuk bersaing dengan sekolah-sekolah mahal disekitar sekolah kami, jelas kami kalah”. Itu adalah sepenggal dari perkenalan beliau, diawal training. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan peserta lainnya.
Saya sedikit gelisah dengan sudut pandang beliau dalam memandang anak-anak didiknya. Untuk memberikan pencerahan terhadap sudut pandang beliau, akhirnya dalam pertengahan training saya sampaikan sebuah cerita, dengan harapan dapat sedikit mengubah kerangka berpikirnya. ”Mungkin selama ini kita merasa usaha dan kerja keras kita tergantung pada seberapa pandainya siswa-siswa kita”, saya mulai membuka cerita. ”Namun ada sebuah cerita yang cukup menarik untuk kita cermati, ceritanya begini :
Suatu hari ada sebuah rumah lelang yang sedang mengadakan pelelangan barang-barang kuno. Banyak barang-barang kuno yang dilelang pada hari itu. Dari mulai peralatan rumah tangga, alat elektronik, kendaraan, buku-buku hingga alat musik. Satu persatu barang-barang itu mulai dilelang. Semua barang sudah terlelang dengan mudahnya, hingga sampai pada barang terakhir yang akan dilelang, yaitu sebuah biola tua. Biola ini terlihat kusam dan tidak menarik. Hampir semua peserta lelang tidak tertarik melihatnya. Namun, panitia tetap membuka lelang untuk biola tua itu. Mereka membuka lelang untuk biola itu dengan menyerahkan harga pertama pada peserta lelang. ”Kami buka lelang untuk biola tua ini dengan harga pembuka dari Anda, silahkan ada yang mau memulai..??”.
”Dua Dollar”, seorang pengunjung membuka harga sambil mengangkat tangannya. ”Empat Dollar”, seorang wanita diseberang meja menanggapi sambil mengangkat tangannya. ”Lima Dollar”, seorang pria bertopi kuning mengangkat tangannya. Kemudian suasana hening sejenak, ”Tujuh Dollar”, seorang wanita tua mencoba ikut berpartisipasi dengan mengangkat tangannya. Suasana kembali hening agak lama, sepertinya akan berhenti di harga Tujuh Dollar. ”Sepuluh Dollar”, terdengar suara agak keras dari seorang berpakaian rapi lengkap dengan jas-nya seperti ingin menutup harga lelang biola tua ini. Panitia sejenak mengamati seluruh peserta lelang, kemudian ia bertanya, ”Baik, ada penawaran lagi..??”. Semua peserta diam, kelihatannya tidak ada peserta lain yang berminat untuk menawar lebih dari sepuluh dollar. Ia mulai mengarahkan mata berkeliling lagi untuk memeriksa apakah ada yang mau memberikan penawaran lagi. ”Sekali lagi saya tanya, apakah ada penawaran lagi..??” ia mulai memastikan apakah lelang akan berakhir di angka sepuluh dollar.
”Tunggu..!!” seorang tua tiba-tiba maju ke depan panggung. Ia membisikkan sesuatu kepada panitia lelang. Dari kejauhan terlihat anggukan persetujuan panitia lelang. Semua peserta tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tua ini. Tak lama kemudian laki-laki tua mengambil biola yang tadi akan di lelang. Semua peserta heran, menebak-nebak apa yang akan dilakukannya terhadap biola tua itu.
Ternyata ia mulai memainkan sebuah lagu dengan biola itu. Perlahan mulai terdengar suara musik yang merdu dan mendayu. Para penonton mulai menikmati permainan biola laki-laki tua itu. Begitu menghayatinya ia sehingga membuat para penonton ikut terlarut didalamnya. Gerakan tangannya begitu lincah. Gesekan demi gesekan dawai biola itu begitu menyentuh perasaan orang-orang yang mendengarnya. Seluruh penonton benar-benar terbawa oleh irama permainannya. Permainannya begitu memukau. Ia sangat menjiwai, dan bermain dengan penuh kesungguhan. Ia benar-benar terlihat memainkan dengan penuh perasaannya, dengan semangatnya, dengan seluruh sentuhan hatinya. Seluruh penonton benar-benar terpukau. Sesaat kemudian sang laki-laki tua menyelesaikan permainannya dengan penuh kesempurnaan. Seluruh penonton terdiam, dan tak lama kemudian terdengar tepuk tangan dan sorak sorai kekaguman dari para penonton. Sang laki-laki tua turun dari panggung, belakangan diketahui bahwa dulu ia adalah seorang maestro biola ternama di kota itu.
Setelah semua penonton tenang, panitia lelang melanjutkan penawaran harga biola tua itu. ”Silahkan penawaran berikutnya, ada yang berani lebih tinggi dari sepuluh dollar..??. ”Dua Puluh Dollar”, terdengar suara dari tengah penonton. ”Lima Puluh Dollar”, sahutan berikutnya. ”Seratus Dollar”, wanita tua kembali bersuara. ”Dua Ratus Dollar” seorang pria separuh baya ikut berpartisipasi dalam penawaran harga. ”Dua Ratus Lima Puluh Dollar”, tawaran berikutnya dari seorang pria berdasi di sudut ruangan. Tak terasa tawar menawar terus berlanjut dan berhenti di titik Dua Ribu Lima Ratus Dollar untuk biola tua itu.
Cerita saya berhenti disini, kemudian saya tanyakan kepada para peserta, ”Apa yang membuat biola tua itu menjadi sangat mahal..??”. ”Karena dimainkan dengan sangat baik oleh sang maestro..!!” serempak para peserta menjawab. ”Tepat sekali. Sang maestro memainkan dengan sempurna, walaupun hanya sebuah biola tua”.
”Itulah perumpamaan yang baik bagi kita sebagai seorang pengajar. Apa yang kita mainkan tidak tergantung biolanya, tidak tergantung bagaimana siswanya, melainkan bagaimana kita memainkan peran kita sebaik-sebaiknya untuk membentuk anak-anak didik kita menjadi jauh lebih mahal dari nilai mereka saat ini. Seperti layaknya sang maestro mampu mengubah nilai sebuah biola tua menjadi sangat mahal dimata para peserta lelang”.
”Bagaimanapun kondisi anak didik Anda, mengajarlah dengan hati dan penuh kesungguhan, karena Andalah Pemainnya Bukan Mereka...”
Minggu, 26 Desember 2010
SERI GURU IDOLA 5 - Optimis & Pantang Mengeluh
Dalam suatu sessi konsultasi, seorang guru mengeluhkan kondisinya pada saya, ”Pak Catur, saya seorang guru biasa, gaji saya pas-pasan Pak, belum lagi kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik, memang kebijakan pemerintah tidak memihak kami guru-guru kecil, mereka hanya mengurusi orang-orang kaya saja, bla bla bla..” ( keluhannya masih panjang dan menurut saya kurang produktif jika semuanya dituliskan disini ). Saya ingin banyak menambah pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan saya dalam mengajar, saya juga tertarik dengan materi-materi tentang teknik-teknik mengajar, tapi dengan kondisi keuangan seperti ini sepertinya tidak mungkin, mungkin saya ditakdirkan untuk tetap seperti ini...”
Saya tersenyum, tidak mungkin saya langsung memberi nasehat yang panjang saat ini, akhirnya saya ajak bercerita, ”Anda pernah mendengar cerita fabel tentang kisah dua ekor katak, Pak..??”. Masih terheran-heran ia menjawab, ”Sepertinya belum pernah Pak, memang bagaimana ceritanya..??”. Saya mulai bersiap untuk bercerita, ”Ceritanya begini” :
Suatu hari dua ekor katak berlompatan dengan riang di sebuah halaman rerumputan pada sebuah peternakan sapi. Tiba-tiba serombongan anak yang sedang bermain berusaha menangkap mereka. "Ayo cepat kita pergi”, kata salah seekor katak itu. "Aku melihat tempat persembunyian yang sulit dijangkau oleh mereka" kata si katak menunjuk arah kandang sapi perah yang ada didalam peternakan. "Ayo cepat" seru si katak pertama.
Kemudian keduanya melompat-lompat tinggi, lebih tinggi, semakin tinggi lompatannya dan sangat tinggi kearah pagar kandang menuju tempat dimana mereka akan bersembunyi. Kemudian "plung" pada lompatan terakhir, keduanya serentak mendarat di sebuah ember yang berisi susu segar dan segera mereka berenang ke tepi ember dan berusaha untuk naik keluar dari ember itu sambil sesekali melompat, tapi tidak berhasil. "Habislah kita kali ini, ember aluminium ini sungguh sangat licin, rasanya tidak mungkin memanjatnya, habislah kita kali ini, kita tak bisa kemana-mana lagi, kita akan mati tenggelam disini" kata katak kedua.
"Teruslah berusaha, teruslah berenang, teruslah mendayung" kata katak pertama, pasti ada cara untuk bisa keluar dari tempat ini, jangan menyerah. Mereka berduapun mendayung dan berenang kesana kemari sambil sesekali melompat berusaha melewati bibir ember. Setelah sekian jam mereka mendayung katak kedua mulai mengeluh lagi: "Saya sungguh lelah sekali, saya benar-benar kehabisan tenaga, susu ini kental sekali dan terlalu licin untuk keluar dari tempat ini".
"Ayo, teruslah berusaha, jangan menyerah" kata katak pertama memberi semangat. "Percuma saja, kita tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari tempat ini, kita pasti mati disini keluhnya makin lemah" dan gerakan katak kedua itu makin lama makin lambat dan akhirnya tidak bergerak lagi, mati. Sementara itu katak pertama tidak putus asa, dengan sisa-sisa tenaganya masih berenang dan terus mengayunkan tangan dan kakinya sambil sesekali tetap membuat lompatan terus mencoba melewati ember yang mengurungnya. Saat malam menjelang pagi udara terasa sangat dingin, samar-samar terdengar ayam berkokok dan tanpa disadari kaki-kaki katak itu serasa mendapat pijakan. Katak itu sudah tidak mendayung lagi karena kakinya terasa berdiri diatas setumpuk mentega karena apa yang dilakukannya semalaman. Dan "hop" katak itupun membuat lompatan terakhir untuk keluar dan bebas dari ember yang mengubur temannya.
Saya melihat ia mulai tersenyum saat saya menutup cerita ini. Kemudian ia berujar, ”Saya mengerti maksud cerita ini Pak, tidak ada sesuatu yang bisa berubah jika kita tidak mengubahnya”.
”Hahaha.. Tepat sekali Pak” kemudian saya lanjutkan, ”Perbedaan katak pertama dan katak kedua adalah dari respon yang mereka berikan atas stimulus yang sama. Katak pertama merespon suatu musibah atau keadaan yang tidak mengenakkan bagi dirinya dengan respon yang positif. Optimis dan penuh dengan usaha keras. Sedangkan katak kedua merespon dengan respon yang negatif. Keluhan-keluhan yang melemahkan dan penuh dengan pesimisme. Sungguh sebuah respon itu bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis, melainkan sebuah pilihan. Tidak diharuskan kita memilih untuk marah saat menerima sesuatu hal yang mengecewakan. Tidak diharuskan kita untuk memilih sikap mengeluh saat mendapati sesuatu yang tidak mengenakkan. Kita bebas untuk memilih respon apapun yang akan kita ambil, baik itu respon positif maupun respon negatif. Sekarang pertanyaan saya, berapa banyak orang yang mengalami kejadian seperti yang Anda alami..?? Kemudian apakah semua dari mereka merespon sama seperti respon Anda..??”.
Dan ia kembali tersenyum, seiring dengan cerita saya berikutnya tentang kisah seorang guru honorer dengan berbagai trik yang dilakukannya untuk menutupi kecilnya pendapatan, termasuk trik-trik untuk meringankan biaya pelatihan-pelatihan yang ingin diikutinya.
Kamis, 16 Desember 2010
SERI GURU IDOLA 4 - Ice Breaking
”Berarti Ice Breaking sebaiknya dilakukan pada awal pelajaran ya Pak?” tanya beliau lagi. ”Ya umumnya seperti itu, tapi sebaiknya dilakukan juga pada tengah dan akhir pelajaran”. Saya tambahkan kembali, ”Ice breaking itu sesuai dengan artinya bertujuan untuk memecah kebekuan komunikasi yang mungkin timbul baik itu karena tidak fokusnya siswa atau hambatan komunikasi lainnya”. ”Pernah Anda bayangkan ? saya memiliki pengalaman tentang hal ini saat saya sekolah dulu. Salah seorang guru masuk ke kelas kami dan memulai pelajaran dengan statementnya yang saya ingat sampai sekarang, ia berkata : Kok saya setiap masuk ke kelas ini bawaannya mau muntah ya.”
”Jelas yang dilakukannya bukan Ice Breaking tetapi Ice Making. Karena sejak itu semua pelajaran yang disampaikan tidak dapat kami terima dengan baik disebabkan ketakutan dan keengganan untuk menyimak pelajaran yang disampaikannya”. Kemudian peserta training saya itu bertanya lagi, “Kapan sebaiknya kita menyisipkan Ice Breaking ditengah pelajaran Pak ? Dan waktunya kira-kira berapa lama ?”
”Pertanyaan yang baik sekali. Disinilah kemampuan kita sebagai seorang guru diuji, bagaimana ia mampu mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai Ice Breaking dan kapan waktu untuk mengakhirinya. Ada yang dinamakan dengan teknik kalibrasi, yaitu teknik untuk mengamati kondisi psikologis seseorang berdasarkan penampilan dan gerak tubuhnya. Namun biasanya para pengajar menempatkan Ice Breaking dengan melihat indikator dari besar kecilnya antusiasme siswa”. Kemudian saya melengkapi jawaban saya, “Secara umum Ice Breaking di awal pembelajaran bertujuan membangun suasana yang mendukung ke arah fokus pembelajaran. Sedangkan Ice Breaking di tengah-tengah pembelajaran bertujuan sebagai penghapus kejenuhan dan membangkitkan fokus yang mulai luntur. Kemudian Ice Breaking diakhir pembelajaran bertujuan meninggalkan kesan dan penegasan terhadap materi yang baru disampaikan”.
Terakhir beliau menanyakan sebuah pertanyaan yang menarik, “Pak Catur, katanya ada Ice Breaking yang berbentuk permainan sulap, saya minta contohnya donk Pak!”
“Hahaha..” Kemudian saya tanya ke beliau, ”Boleh saya tahu mata pelajaran apa yang Anda ajarkan ?”
”Saya mengajar geografi Pak” jawabnya.
”Ok, ini salah satu contoh permainan sulap untuk memulai pelajaran geografi.”
”Mari kita bermain... Sekarang ikuti instruksi saya !”
( Untuk Anda yang sedang membaca artikel ini, ikuti juga instruksi dibawah ini agar bisa ikut merasakan efeknya )
Sekarang silahkan anda pilih angka antara 1-10. Sudah? Ini akan menjadi angka rahasia Anda.
Sekarang kalikan angka rahasia anda dengan 2. Sudah ?
Kemudian hasil perkalian tadi tambahkan dengan 8, lakukan sekarang. Sudah?
Sekarang hasil tersebut anda bagi 2.
Oke saya beri waktu anda menghitungnya.
Anda masih ingat angka rahasia anda diawal tadi?
Sekarang kurangkan hasil perhitungan kita tadi dengan angka rahasia anda!
Bila sudah kini anda ubah hasil pengurangan tersebut ke dalam abjad, misalnya bila hasilnya 1 maka jadi A, bila hasilnya 2 jadi B, 3 jadi C, 4 jadi D, 5 jadi E... dan seterusnya.
Anda paham?
Kini anda telah memiliki huruf abjad rahasia yang orang lain tidak mengetahuinya, termasuk saya. Dan saya ingin anda memikirkan nama salah satu negara di dunia dengan menggunakan huruf abjad rahasia anda. Jadikan huruf abjad tersebut sebagai huruf awal nama suatu negara.
Sudah ?
Bila sudah saya ingin anda pikirkan nama hewan, tapi tunggu dulu..
Pilih nama hewan tersebut menggunakan huruf kedua dari nama negara yang anda pilih. Begini, misalnya nama negara yang saya pilih INdonesia, nah huruf keduanya adalah N maka hewan yang saya pilih adalah NURI (nuri adalah hewan dari jenis burung).
Oke apakah anda sudah mendapatkan nama hewan yang sesuai dengan huruf kedua dari nama negara yang anda pilih?
Berarti sekarang Anda punya 1 nama negara dan 1 nama hewan ? Tuliskan diatas kertas dan simpan didalam saku. Saya akan coba membaca gelombang fikiran Anda.
Ok, saya telah berhasil membaca gelombang fikiran Anda...
Kemudian saya tuliskan di papan tulis : ”Di negara DENMARK memang banyak terdapat burung ELANG, tapi mungkin tidak ada ENTOK disana..”
Kemudian saya memintanya untuk menunjukkan kepada peserta lain nama negara dan hewan yang tadi ditulisnya. Suasana hening sejenak, semua peserta diam dan bertanya-tanya, hingga sepuluh detik kemudian baru terdengar tepuk tangan mereka.
Begitulah Ice Breaking, selalu membuat peserta tertarik untuk mendengarkan apa yang kita bicarakan. Namun yang perlu diingat adalah bahwa kegembiraan yang ditimbulkan dalam Ice Breaking tidak boleh hanya membuat suasana jadi riuh dan menimbulkan kesenangan yang hanya bersifat hura-hura, atau kemeriahan yang tak berarti apa-apa. Kegembiraan dalam Ice Breaking harus berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna pemahaman, dan nilai-nilai yang bermanfaat pada diri para siswa.
NB : Thanx to Mas Bobby for this Magic Trick
SERI GURU IDOLA 3 - Problem Solver
“Ahh.. hari ini dia berkelahi lagi.. ini sudah kali kelima aku mendapati kejadian ini..” Bu Wahyuni bergumam sambil menitikkan air mata. Sekian banyak siswa yang menjadi anak didiknya, baru kali ini ada yg membuatnya berkali-kali menitikkan air mata. Dani Susanto, murid kelas 8 yang memiliki temperamen sangat labil. Bukan hanya teman-temannya yang pernah menjadi mitra tandingnya dalam berkelahi. Seorang guru pria bahkan pernah ditantangnya untuk berkelahi dan beberapa guru wanita pernah dibentaknya, termasuk Bu Wahyuni sebagai wali kelasnya. Beberapa guru telah merekomendasikan Dani untuk di berhentikan dari sekolah. Bu Wahyuni telah beberapa kali dipanggil kepala sekolah terkait hal ini. Ia pun sebenarnya belum memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah ini, tapi nalurinya mengatakan Dani adalah anak yang baik dan cerdas. Walaupun hatinya pernah disakiti, tapi ia tahu kehadiran Dani dalam kehidupannya adalah anugerah Allah untuk menguji kesabaran dan kegigihannya sebagai seorang guru.
Bu Wahyuni membaca-baca data personal record milik Dani. Kelas 7 ia sudah menjadi temperamen, beberapa catatan tentang kenakalannya jelas tercatat disitu. Memukul kakak kelas dalam perkelahian di kantin pada bulan pertama masuk SMP. Menantang berkelahi guru fisika pada bulan ke 3 karena ia dihukum akibat tidak mengerjakan tugas. Terakhir sebelum kenaikan kelas ia juga kedapatan berkelahi dengan siswa sekolah lain. Secara akademis personal record Dani juga tidak terlalu bagus, ia masuk ke SMP dengan nilai sangat terbatas. Bu Wahyuni mencoba mencari data personal record Dani saat di SD, namun tidak ada dalam arsip sekolahnya. Sebagai seorang wali kelas, Bu Wahyuni pernah berbicara pada Dani tentang kenakalannya, tapi tidak ada perubahan yang berarti dalam diri Dani. Ini yang membuat Bu Wahyuni sempat berputus asa, walaupun ia masih berkeyakinan bahwa Dani adalah anak yang cerdas. Dalam kegundahannya, Bu Wahyuni menyerahkan sepenuhnya kepada yang Maha Mengetahui atas segala yang terjadi di alam ini. Ada sebait doa yang selalu ia lantunkan dalam doa-doa malamnya. “Ya Allah jika ia memang dihadirkan dalam kehidupanku untuk kubantu menyelesaikan permasalahannya, maka tunjukilah jalannya dan mudahkanlah penyelesaiannya”.
Allah menjawab doa Bu Wahyuni. Adalah Diana, seorang tetangga Dani yang juga bersekolah di sekolah itu. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupan masa kecil Dani. “Dani dulunya adalah bintang kelas Bu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD ia selalu menjadi juara kelas. Ia juga anak yang baik dan disukai teman-temannya, hingga musibah itu datang menimpanya. Hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ia selalu bahagia bila hari ulang tahunnya diingat oleh orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Hari itu juga seluruh kelas telah berencana akan memperingati hari ulang tahun Dani di sekolah. Acara sederhana berupa pembacaan doa dan makan bersama telah disiapkan oleh orang tua Dani. Semua teman-teman telah siap menunggu di sekolah. Tapi Allah berkehendak lain. Mobil yang dikendarai Mama Dani mengalami kecelakaan. Mama Dani meninggal dunia di lokasi kejadian dan hari itu berubah menjadi penuh duka, bukan hanya bagi keluarga Dani, tapi juga bagi kami teman-teman sekelasnya”. Bu Wahyuni hampir tak kuasa menahan air matanya, ia mencoba bertahan, “Kemudian bagaimana dengan Dani setelah kejadian itu?”. Diana kembali melanjutkan ceritanya, “Dani menjadi berubah Bu, menjadi pemarah, ia merasa sangat bersalah atas kejadian itu. Hari-harinya kemudian dipenuhi dengan perkelahian dengan siapapun yang ia inginkan. Nilai-nilai pelajarannya menjadi sangat rendah. Ia tidak peduli sama sekali dengan sekolahnya. Ia seperti kehilangan semangat hidup”. Bu Wahyuni menarik nafas panjang, ia mulai memahami apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Kini Dani adalah murid yang benar-benar istimewa bagi Bu Wahyuni. Saat berbicara dengan Dani tidak ada lagi nasehat-nasehat yang diberikan Bu Wahyuni. Ia hanya mendengarkan apapun yang Dani bicarakan. Semua pendekatan yang selama ini dilakukan Bu Wahyuni berubah total. Dani membutuhkan sosok Ibu dalam kehidupannya, dan itulah yang dilakukan oleh Bu Wahyuni, menjadi ”Ibu” bagi setiap kegundahannya. Perlahan Dani mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia mulai mau memperhatikan kembali semua pelajaran-pelajaran sekolahnya. Bu Wahyuni bahkan mendampingi Dani saat harus kembali kehilangan orang tuanya, saat ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya. Dengan sabar ia perhatikan perkembangan Dani, hingga Dani lulus SMP dan menjadi lulusan dengan nilai terbaik. Kemudian Dani melanjutkan sekolahnya diluar kota, karena ia harus ikut tinggal bersama kakeknya disana.
Hari ini setelah 20 tahun tidak pernah berjumpa, Bu Wahyuni kembali menitikkan air matanya untuk Dani. Air mata yang menetes diatas selembar surat yang sedang dipegangnya. Dibalik kacamata tebalnya, ia masih bisa membaca beberapa kata-kata yang ukurannya agak besar di sampul suratnya. INVITATION. GRADUATION DAY. DOCTORAL PROGRAM. HARVARD UNIVERSITY. MRS. WAHYUNI. DANI SUSANTO’S MOTHER. Dan ada sebuah catatan kecil berupa tulisan tangan yang dibuat agak besar. “Bu Wahyuni, dengan segenap rasa hormat dan sayangku, ijinkan aku menyampaikan satu permohonan, bersediakah Ibu menggantikan orang tuaku untuk menghadiri perayaan hari kelulusanku ?”
Menjadi seorang guru adalah pekerjaan mulia, ia hadir bukan hanya untuk mengajar apalagi hanya mengejar kurikulum. Melainkan hadir untuk menjadi solusi bagi permasalahan orang-orang disekitarnya, terutama permasalahan anak-anak didiknya.
Kamis, 29 April 2010
Mengenal Lebih Dekat Catur Suryo

Seorang trainer yang memfokuskan pada pengembangan potensi diri dan kemampuan persuasi. Pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi praktisi dibidang Human Resources dan Marketing mendukung performa dalam setiap sessi trainingnya. Selain itu, ia juga melengkapinya dengan sertifikasi NLP Practitioner yang didapatnya dari The Society Of NLP™,
Sekarang ia menjadi Trainer di PT Sinergi Penta Esa dan telah memberikan training di depan ribuan peserta dengan metode-metode training terbaru dan terpopuler. Perusahaan maupun instansi yang pernah merasakan program trainingnya antara lain, PT Johnson Home Hygiene Product, PT Federal International Finance, PT Asuransi Umum Bumiputeramuda 1967, Indokarta Group, Departemen Pendidikan Nasional, Non Government Organization Association for Community Empowerment ( ACE ), Pos Wanita Keadilan, Universitas Indonesia, Teachers Working Group, SDK Mardiyuana Depok, Poltek Negeri Jakarta, SMPN 3 Serpong, Institut Pertanian Bogor, Universitas Negeri Jakarta dan SMP Unggulan Citra Nusa.
Sesuai dengan sertifikasi yang dimilikinya, metode training yang digunakannya adalah menggunakan NLP dengan pendekatan metode enter-training ( entertainment & training ), dimana training dibawakan dengan sangat menarik menggunakan simulasi, inspirational story maupun dengan menggunakan magic, sehingga dapat menggerakkan motivasi dan potensi para peserta training dengan suasana training yang sangat menyenangkan.
Rabu, 28 April 2010
Our Services
Download Profil Lengkap klik disini...
Metode Training :
Metode yang digunakan adalah Mind Programming melalui pendekatan NLP, dan berbasis peningkatan motivasi dengan pengemasan yang menarik dalam bentuk Games, Inspirational Story, Funny Video dan Magic.
Topik Pilihan :
1. Get Your Glory Point
2. Emotional Intelligence
3. Guru Idola
4. Leadership
5.
6. Communication
7. Presentation Skill
8. Persuasive Sales
9. Public Speaking
10. Negotiation Skill
11. Service Excellent
Anda membutuhkan training untuk organisasi anda...??
Hubungi kami : Rahmawati ( 0856-93517498 )
Selasa, 27 April 2010
SERI GURU IDOLA 2 - Semua Siswa Itu Cerdas
Suatu hari di sebuah sekolah sedang diadakan pertemuan internal para pengajar yang dipimpin langsung oleh sang kepala sekolah. Mereka sedang membahas pengunduran diri seorang wali kelas dari kelas yang mereka sebut sebagai “kelas anak-anak nakal”. Ini adalah kali kelima dimana wali kelas yang bertugas di kelas itu mengundurkan diri. Dalam rapat, dibahas tentang calon-calon pengganti wali kelas itu dan solusi untuk mengelola kelas tersebut. Saat satu persatu diminta untuk menggantikan menjadi wali kelas, spontan semua guru dengan tegas menolaknya. Tidak ada satupun yang bersedia untuk menjadi wali kelas di kelas tersebut. Karena mereka tahu kelas tersebut adalah kelas yang paling susah diatur, siswanya sering membantah perintah guru, sering keluar kelas saat jam pelajaran berlangsung, sering membuat gaduh dikelas, bahkan beberapa kaca sekolah pecah karena mereka bermain sepak bola didalam kelas. Mereka yang menolak malah memberikan beberapa usulan.
Kemudian kepala sekolah menutup rapat hari itu dengan keputusannya, “Baiklah, usulan rekan-rekan akan saya pertimbangkan, kita berikan satu kesempatan lagi, kebetulan minggu depan kita akan kedatangan seorang guru baru, mungkin ia bisa mengelola kelas ini, jika yang terakhir ini juga tidak bisa maka akan kita pilih salah satu opsi dari usulan rekan-rekan tadi. Dan untuk mengisi kekosongan, maka dalam satu minggu kedepan biar saya yang akan menangani langsung kelas ini”. Semua guru menyetujui keputusan itu, walaupun dalam kondisi keraguan mereka terhadap sang guru baru, mengingat guru-guru senior disekolah itu saja tidak mampu untuk mengelola kelas tersebut.
Seminggu kemudian datanglah sang guru baru, tanpa diberitahukan tentang kondisi kelas ia langsung diminta oleh kepala sekolah untuk menjadi wali kelas di kelas tersebut. Ia hanya diberikan daftar nama dan absensi siswa di kelas tersebut. Pak Ahmad nama guru baru itu. Ia menerima tugas tersebut dengan senang hati. Ia mulai mempelajari kondisi kelas, diperhatikannya daftar nama yang baru ia terima. Abadi Putra 132, Ajat Sudrajat 129, Anwar Sanusi 125, Amelia Santi 137, Budi Baskoro 123, Cahya Arisanti 135. Ia mengamati satu persatu nama tersebut hingga nama terakhir. “Hmm, semua IQ nya diatas rata-rata, tidak ada yang rendah, sepertinya akan mudah”, gumamnya setelah membaca daftar nama siswa.
Pak Ahmad memulai hari dengan gembira, karena mulai hari ini ia akan belajar dengan siswa-siswi yang cerdas. “Pasti hari ini akan menyenangkan” ujarnya. Hari pertama mengajar, Pak Ahmad kerepotan dengan kegaduhan dikelas dan beberapa siswa yang suka membantah. Esoknya ia berpikir, “Hmm, mungkin anak-anak cerdas memang membutuhkan penyaluran keinginan untuk berpendapat”. Ia kemudian membuat sebuah forum diskusi santai, dan para siswa antusias mengikutinya karena mereka tidak dilarang-larang lagi untuk berbicara di kelas, semua siswa yang sering membuat gaduh dan yang suka membantah dapat menyampaikan pendapatnya dalam diskusi santai itu.
Beberapa hari berikutnya kembali Pak Ahmad kerepotan. Kali ini mengenai mereka yang sering keluar saat jam pelajaran berlangsung. Ia mulai berpikir, “Hmm, mungkin anak-anak cerdas sering jenuh jika terlalu lama di kelas”. Akhirnya hari itu ia membawa anak-anak ke kebun belakang. “Anak-anak kali ini kita belajar di luar kelas, selain udaranya lebih segar, belajar diluar juga bagus untuk menghilangkan kejenuhan” begitu kata Pak Ahmad kepada para siswa saat memulai pelajaran hari itu. Akhirnya beberapa variasi-variasi mengajar mulai ia gunakan mengingat kebutuhan anak-anak cerdas pasti akan lebih variatif. Mulai dari games dalam ruangan dan luar ruangan, lomba menyanyi dikelas, pengenalan multimedia, liputan pandangan mata ke sekolah lain, acara-acara sosial ke masyarakat sekitar sekolah, bahkan ia sering sekali mengubah jadwal pelajaran karena melihat kebutuhan para siswa saat itu.
Akhirnya kerja keras Pak Ahmad membuahkan hasil, kelasnya menjadi kelas terbaik saat hasil evaluasi penilaian siswa dibagikan. Bahkan beberapa orang siswa dikelasnya menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti beberapa lomba di wilayah tersebut.
Kemudian kepala sekolah menghampiri Pak Ahmad, “Selamat ya Pak Ahmad, meskipun guru baru, tapi Anda bisa membawa kelas ini menjadi yang terbaik tahun ini”.
Pak Ahmad menjawab dengan rendah hati, “Bukan karena saya Pak, saya hanya memenuhi kebutuhan mereka, anak-anak dengan IQ tinggi memang memiliki keinginan yang lebih banyak”.
Kepala sekolah malah mengernyitkan dahinya, “IQ tinggi..?? darimana Pak Ahmad tahu..?? setahu saya semua siswa disini belum pernah mengikuti Tes IQ”.
Dengan sedikit heran Pak Ahmad berujar, “Loh bukannya angka-angka yang ada disamping nama-nama mereka itu adalah nilai IQ mereka Pak..?? Saya dapatkan angka-angka itu dari daftar nama yang Bapak berikan waktu pertama kali saya datang ke sekolah ini”.
“Hahahaha... Ini yang namanya kesalahpahaman berakibat positif. Angka-angka yang ada disamping nama mereka itu sesungguhnya adalah tinggi badan mereka Pak. Kebetulan waktu itu mereka baru saja mengikuti pengukuran tinggi badan untuk keperluan pengambilan data oleh salah seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang hubungan tinggi badan dan keaktifan siswa”, kepala sekolah tertawa setelah mengetahui kejadian itu.
Menganggap siswa bodoh ataupun nakal hanya akan menjebak persepsi kita pada kenegatifan, bahkan kecenderungan untuk mengklaim bahwa mereka tidak akan bisa berkembang. Padahal setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, melainkan hanya belum tergali potensi besarnya, galilah potensi mereka, kemudian lihatlah apa yang akan Anda dapatkan. Untuk menjadi positif, kita tidak memerlukan informasi negatif yang terlalu hiperbolis. Atau bahkan terkadang kita tidak memerlukan informasi negatif sama sekali, jika itu malah membuat sudut pandang kita melemahkan mereka, kecuali jika kita sangat memerlukannya untuk melakukan perbaikan terhadap mereka.
Sekarang, masihkah kita menganggap ada siswa bodoh di kelas kita..??
